Aneenggak sekolah di daerah jadi gak kenal bahasa daerah :sedih
Sehinggamasyarakat Bugis-Makssar khususnya, memiliki beragam jeni tari-tarian seperti misalnya tari gandrang bulo, tari pakarena, tari ma'badong, tari pa'gellu, tari kipas dan tari paduppa. Jenis tarian yang di sebut terakhir merupakan tarian asli Bugis-Makassar yang di selenggarakan untuk menyambut seorang, baik dalam pesta adat ataupun acara
Namunsebagian besar masyarakat bugis yang masih menganut agama lokal yaitu kepercayaan Tolotang menganggap bahwa I La Galigo ini sebagai kitab suci. Karya satra ini memiliki sekitar 6.000 halaman dan 300 ribu baris teks dengan menggunakan penulisan aksara Lontara yaitu aksara asli Bugis, penyusunan puisi didalamnya dianggap sangat indah dan
SureqGaligo yang usianya sudah berabad-abad itu di masa lalu adalah bagian tak terpisahkan dalam kehidupan rakyat Sulawesi Selatan, khususnya suku Bugis. Namun, fakta di lapangan, karya sastra ini sudah mulai dilupakan. Maka, selama Festival La Galigo itu, Desa Pancana sejenak berubah wajah.
Vay Tiền Online Chuyển Khoản Ngay. ᨊᨄᨚᨕᨉᨕᨗ ᨄᨘᨊᨕᨙ ᨌᨑᨗᨈ ᨆᨀᨛᨉ ᨕᨛᨃ ᨔᨙᨉᨗ ᨀᨇᨚ᨞ ᨊᨕᨗᨕ ᨀᨇᨚ ᨕᨙᨑᨚ ᨉᨙ ᨊᨆᨊᨛᨔ ᨕᨚᨋᨚᨊ᨞ ᨑᨗ ᨒᨒᨛ ᨀᨇᨚ ᨕᨙᨑᨚ ᨕᨛᨃ ᨈᨕᨘ ᨆᨀᨛᨒᨛᨅᨗᨊᨛ ᨈᨛᨆᨀ ᨕᨀᨔᨗᨕᨔᨗᨂᨛᨊ᨞ ᨊᨕᨗᨀᨗᨐ ᨕᨛᨃ ᨈᨚ ᨈᨕᨘ ᨔᨘᨁᨗ ᨈᨒᨁᨒᨁ ᨆᨚᨋᨚ ᨑᨗ ᨀᨇᨚ ᨕᨙᨑᨚ᨞ ᨕᨗᨕᨑᨚ ᨈᨕᨘ ᨔᨘᨁᨗ ᨕᨙ ᨉᨙ ᨊᨕᨗᨔᨛᨂᨗ ᨑᨗᨕᨔᨛ ᨕᨙ ᨕᨄᨛᨉᨗᨑᨛ ᨕᨚᨋᨚ ᨒᨗᨊᨚᨊ ᨈᨛᨆᨀ ᨑᨗᨈ ᨕᨒᨛᨅᨗᨒᨛᨅᨗᨑᨛᨊ᨞ ᨈᨘᨃᨛᨈᨘᨃᨛ ᨕᨛᨔᨚ ᨕᨗᨕᨑᨙᨁ ᨊᨕᨛᨔᨚ ᨆᨑᨍ ᨔᨗᨂᨗ ᨒᨚᨀᨊ ᨍᨚᨀᨍᨚᨀ ᨑᨗ ᨔᨙᨕᨘᨕᨕᨙ ᨕᨚᨋᨚ᨞ ᨆᨔᨛᨊ ᨔᨛᨊ᨞ Tosugi Ero ana'na riaseng La Tenri Sau. Naia tokasi-asi E dEnrE engkato ana'na riasengnge La Biu. Esso-esso ambo'na La Biu sitengnga matE mala aju ri ale E nainappa natiwirang tosugi Ero. Naia tokasi-asi Ero dE gaga makkanaonroi mEllau tulung sangadinna tau sugi Ero. Temmaka manrasa-rasana tokasi-asi Ero. BainEna maddaretoi parimeng. Naia ana'na nataro bawangmi ri bolana. Temmakkasoro iarEga angkangulung. Massalimu carE-carE lekke. Nasaba araja sEuana Puang Allah Ta'ala iaro lapong anana ianaritu La Biu maddising-dising mui, namantoni dE nasokko anrEna. Si kaya memiliki seorang anak yang bernama La Tenri Sau. Sementara si miskin juga memiliki seorang anak, yang mereka namakan La Biu. Tiap hari ayah La Biu, bersusah payah setengah mati mengambil kayu di hutan untuk kemudian membawakannya ke si kaya. Orang tua La Biu sama sekali tidak memiliki siapa-siapa yang bisa dimintai pertolongan kecuali si kaya tersebut. Begitu menderitanya mereka, bahkan istrinya pun juga ikut berkebun, sementara anak mereka ditinggal sendiri di rumah, tanpa kasur dan juga bantal. Si anak hanya beralaskan kain tipis. Namun berkat kuasa Allah si anak, La Biu, tetap bertahan meskipun gizinya tak tercukupi. ᨔᨗᨊᨗᨊ ᨉᨒᨙᨕᨙ ᨕᨊᨘ ᨄᨚᨒᨙ ᨆᨊᨛ ᨑᨗ ᨄᨘᨕ ᨕᨒ ᨈᨕᨒ ᨊᨀᨘᨆᨘᨕᨑᨚ ᨕᨅᨒᨕᨙ ᨄᨚᨒᨙ ᨀᨚᨆᨈᨘ ᨑᨗ ᨄᨘᨕ ᨕᨙ᨞ Sininna dallE'E anu polE maneng ri Puang Allah Ta'ala, nakkumuaro abalaE pole komatu ri PuangE. Segala rejeki yang kita peroleh berasal dari Allah Yang Maha Kuasa, begitu pula dengan segala bencana, asalnya juga dari Allah. ᨑᨗᨓᨛᨈᨘ ᨆᨅᨘᨕᨊ ᨓᨑᨛᨒᨙᨊ ᨔᨗᨅᨓ ᨆᨒᨗᨔᨛᨊ ᨒᨆᨙᨊ ᨈᨄ ᨄᨚᨒᨙ ᨆᨘᨊᨗᨕ ᨔᨄᨗᨊ ᨈᨚᨔᨘᨁᨗᨕᨙ ᨆᨋᨙᨕᨗ ᨔᨗᨊᨗᨊ ᨓᨛᨑᨛᨒᨙᨊ᨞ ᨊᨄᨘᨈᨊᨛᨊ ᨈᨚᨀᨔᨗᨕᨔᨗᨕᨙ ᨒᨕᨚ ᨑᨗ ᨈᨚᨔᨘᨁᨗᨕᨙ᨞ ᨊᨑᨗᨄᨚᨅᨒᨗ ᨈᨚᨀᨔᨗᨕᨔᨗᨕᨙ ᨄᨚᨒᨙ ᨑᨗ ᨈᨚᨔᨘᨁᨗ ᨕᨙ ᨆᨕᨙᨒᨚ ᨑᨗᨕᨘᨊᨚ ᨔᨗᨅᨓ ᨈᨙᨕ ᨈᨚᨕᨗᨓᨗ ᨆᨛᨒᨗ ᨕᨍᨘ ᨕᨊᨔᨘᨊ᨞ ᨑᨗᨓᨛᨈᨘ ᨊᨃᨒᨗᨂᨊᨑᨚ ᨕᨉᨊ ᨈᨚᨔᨘᨁᨗ ᨕᨙ ᨄᨉ ᨊᨔᨄᨘᨑᨘᨕᨗ ᨕᨑᨚᨊ ᨈᨚᨀᨔᨗᨕᨔᨗᨕᨙ ᨆᨒᨕᨗ ᨅᨗᨊᨙ᨞ ᨊᨕᨙᨒᨕᨘ ᨉᨚᨕ ᨒᨕᨚ ᨑᨗ ᨄᨘᨕ ᨕᨒ ᨈᨕᨒ ' ᨈᨛᨊᨄᨚᨉᨚ ᨊᨄᨈᨛᨈᨛᨀᨛᨕᨗ ᨕᨈᨗᨊ ' ᨞ Riwettu mabbuana warellEna sibawa mallise'na lamEna, tappa pole munia sapinna tosugiE manrEi werellEna. Naputane' na tokasiasiE lao ri tosugiE. Naripobali tokasiasiE polE ri tosugiE maElo riuno sibawa tEa toiwi melli aju annasunna. Riwettu nangkalingana ro adanna tosugiE pada nasappurui arona tokasiasiE mallai binE. NaEllau moa lao ri Puang Allah Ta'ala tenna podo napatettekengngi atinna. Suatu ketika jagung si miskin berbuah dan ubinya berisi, tanpa disangka sapi si kaya datang memakan semua jagung si miskin. Si miskin mengajukan keberatan kepada si kaya. Namun keberatan tersebut dibalas dengan ancaman akan dibunuh dan juga ancaman untuk tidak membeli kayu bakarnya. Ketika mendengar ucapan si kaya tersebut, si miskin dengan istrinya hanya bisa mengelus dada. Mereka meminta kepada Allah Ta'ala semoga hati mereka diperkuat. ᨊᨄᨗᨈᨕᨗ ᨕᨀᨘᨕᨔᨂᨛᨊ ᨄᨘᨕ ᨕᨒ ᨈᨕᨒ ᨆᨈᨙᨕᨗ ᨕᨅᨚᨊ ᨒ ᨅᨗᨕᨘ ᨊᨈᨛᨋᨛ ᨅᨈᨘ᨞ ᨑᨗᨓᨛᨈᨘ ᨆᨈᨙᨊ ᨕᨅᨚᨊ ᨒ ᨅᨗᨕᨘ ᨆᨄᨀᨛᨔᨗ ᨅᨅᨘᨕ ᨊᨔᨅ ᨉᨙᨁᨁ ᨈᨕᨘ ᨈᨗᨓᨗᨕᨗ ᨕᨘᨍᨘᨊ ᨒᨕᨚ ᨑᨗ ᨀᨘᨅᨘᨑᨘᨕᨙ᨞ ᨆᨉᨘᨊᨘᨉᨘᨊᨘᨊᨗ ᨓᨕᨙ ᨆᨈᨊ ᨕᨗᨉᨚᨊ ᨒ ᨅᨗᨕᨘ᨞ ᨆᨙᨒᨕᨘ ᨈᨘᨒᨘᨊᨗ ᨒᨕᨚ ᨑᨗᨈᨕᨘ ᨆᨚᨋᨚᨕᨙ ᨑᨗ ᨅᨚᨒᨊ ᨈᨚᨔᨘᨁᨗᨕᨙ᨞ ᨕᨗᨐᨊᨑᨚ ᨊᨄᨙᨔᨑᨚᨕᨗ ᨊᨈᨗᨓᨗᨕᨗ ᨕᨘᨍᨘᨊ ᨒᨀᨕᨗᨊ ᨑᨗᨕᨚᨋᨚᨊ ᨕᨄᨙᨔᨕᨘᨄᨙᨔᨕᨘᨊ ᨔᨗᨀᨘᨕᨕᨙ ᨕᨗᨈᨊ᨞ ᨑᨗᨈᨊᨗ ᨈᨊᨕᨙ ᨆᨁᨚᨄᨚᨁᨚᨄᨚ᨞ ᨀᨚᨊᨗᨑᨚ ᨑᨗ ᨕᨓᨊ ᨑᨗᨈᨑᨚ ᨕᨅᨚᨊ ᨒ ᨅᨗᨕᨘ᨞ ᨉᨙᨁᨁ ᨕᨆᨙᨔ ᨊᨈᨑᨚᨕᨕᨗ᨞ Nappitangngi akkuasangenna Puang Allah Ta'ala, matEi ambo'na La Biu natenre' batu. Riwettu matEna ambo'na La Biu, mappakessi babua nasaba dEgaga tau tiwi i ujuna lao ri kuburuE. Ma'dunu-dununi waE matanna Indo'na La Biu. MEllau tulunni lao ri tau monroE ri bolana to sugiE. Iyanaro maggoppo-goppo. Koniro ri awana ritaro ambo'na La Biu. DEgaga amEsa nataroangngi. Allah Ta'ala, Tuhan Yang Maka Kuasa, memperlihatkan kekuasaannya. Ayah La Biu meninggal dunia terjepit batu. Ketika ayahnya meninggal, kondisi mereka begitu memprihatinkan. Tak ada orang yang bisa membawa jasadnya ke liang kubur. Ibu La Biu menagis tersedu-sedu, air matanya mengalir. Ibu La Biu kemudian meminta tolong kepada orang yang tinggal di rumah si kaya. Orang tersebutlah yang dipercayakan membawa jasad suaminya ke tempat peristirahatannya, setelah beberapa lama. Tampaklah tanah bertimbun-timbun. Di bawah tanah itulah, ayah La Biu dimakamkan tanpa batu nisan. ᨆᨚᨋᨚᨊᨗ ᨒ ᨅᨗᨕᨘ ᨔᨗᨅᨓ ᨕᨗᨉᨚᨊ᨞ ᨕᨗᨕᨆᨊᨗ ᨍᨆᨍᨆᨊ ᨆᨊᨇᨘ ᨕᨔᨙ᨞ ᨑᨗᨕᨑᨙᨈᨚᨊᨗ ᨅᨛᨊᨗ ᨕᨗᨕᨊᨑᨚ ᨔᨑᨚᨊ᨞ ᨊᨕᨗᨕ ᨕᨋᨙᨊ ᨒ ᨅᨗᨕᨘ ᨔᨗᨅᨓ ᨕᨗᨉᨚᨊ ᨕᨗᨕᨊᨑᨗᨈᨘ ᨅᨛᨊᨗ ᨊᨊᨔᨘ᨞ ᨕᨗᨕᨈᨚᨊᨑᨚ ᨊᨙᨅᨘᨑᨛᨂᨗ ᨄᨙᨌ ᨕᨊᨊ᨞ ᨉᨙᨊ ᨑᨗᨕᨘᨒᨙᨕᨗ ᨌᨑᨗᨈᨕᨗ ᨕᨄᨛᨉᨗᨑᨛᨊ ᨒ ᨅᨗᨕᨘ ᨔᨗᨅᨓ ᨕᨗᨉᨚᨊ᨞ ᨊᨕᨗᨕ ᨒ ᨅᨗᨕᨘ ᨈᨛᨄᨀᨙ ᨓᨍᨘ ᨔᨗᨅᨓ ᨔᨘᨒᨑ᨞ ᨕᨗᨉᨚᨊ ᨆᨒᨗᨄ ᨌᨀᨉᨕᨙ ᨉᨙᨊᨅᨍᨘ᨞ Monroni La Biu sibawa indo'na. Iamani jama-jamana mannampu asE. RiarEng toni benni ianaro sarona. Naia anrEna La Biu sibawa indo'na ianaritu benni nanasu. iatonaro nE'burengngi pEca ana'na. DE nariullEi caritai appe'direnna La Biu sibawa indo'na. Naia La Biu teppakE waju sibawa sulara. Indo'na mallipa cakkaddaE DE na'baju. Tinggallah La Biu dengan ibunya sendiri. Adapun pekerjaan yang bisa dikerjakan oleh ibunya adalah menumbuk padi di rumah si kaya dengan diberi upah benni. Ibu La Biu memasak benni sebagai makanan mereka. Dari benni lah ibu La Biu memasak bubur untuk La Biu. Kemelaran mereka tak sanggup diceritakan dengan kata-kata. La Biu tidak berbusana sama sekali, tanpa baju ataupun celana. Sementara ibunya hanya mengenakan sarung, tanpa baju. ᨊᨔᨅ ᨆᨑᨘᨈᨘ ᨈᨚᨊᨗ ᨅᨚᨒᨅᨚᨒᨊ ᨒᨙᨌᨙᨊᨗ ᨑᨗ ᨔᨙᨕᨘᨔᨛ ᨀᨒᨛᨅᨚ ᨑᨗ ᨔᨙᨕᨘᨔᨛ ᨅᨈᨘ᨞ ᨊᨕᨗᨕᨑᨚ ᨀᨒᨛᨅᨚ ᨕᨙ ᨊᨑᨙᨀᨚ ᨓᨛᨊᨗᨊᨗ ᨉᨙᨈᨚ ᨊᨑᨗᨈᨘᨈᨘ ᨅᨅᨊ᨞ Nasaba maruttung toni bola-bolana, lEccEni ri sEuse kalebbong ri sEuse batu. Naiaro kalebbong E narEkko wennini DEto naritutu babanna. Karena pondok mereka akhirnya rubuh, mereka pindah ke sebuah lubang yang ada pada sebuah batu besar gua. Sementara lubang tersebut tidak ditutup bahkan ketika malam. ᨔᨛᨄᨘᨒᨚ ᨒᨗᨆ ᨈᨕᨘ ᨒᨒᨚᨕᨙ ᨆᨒᨚᨄᨚᨊᨗ ᨒ ᨅᨗᨕᨘ᨞ ᨊᨔᨅ ᨕᨈᨗᨊᨘᨒᨘᨑᨛᨊ ᨆᨁᨘᨑᨘ ᨑᨗ ᨈᨕᨘ ᨆᨌ ᨕᨙ ᨑᨗᨒᨕᨗᨊ ᨈᨚᨄ ᨄᨕᨗᨆᨛ ᨁᨀᨊ ᨒ ᨅᨗᨕᨘ ᨆᨏᨍᨗ ᨄᨉᨙᨀᨑ ᨔᨗᨅᨓ ᨑᨗᨈᨕᨘ ᨆᨕᨙᨁ᨞ ᨊᨕᨗᨕ ᨈᨚᨔᨘᨁᨗ ᨕᨙ ᨉᨙᨋᨙ ᨊᨔᨅ ᨕᨑᨍ ᨔᨙᨕᨘᨕᨊ ᨄᨘᨕ ᨕᨒ ᨈᨕᨒ ᨆᨏᨍᨗ ᨈᨚᨀᨔᨗᨕᨔᨗ ᨄᨘᨄᨘᨊᨗ᨞ Seppulo lima taung laloE, malopponi La Biu. Nasaba atinulurenna maguru ri tau macca E rilainna topa paimeng gangkanna La Biu mancaji pandEkara sibawa ritau maEga. Naia tosugi E DEnrE, nasaba arajang seuana Puang Allah Ta'ala, mancaji tokasi-asi puppuni. Lima belas tahun kemudian, La Biu sudah dewasa. Karena giatnya berguru pada orang pintar dan semacamnya, dia menjadi pendekar yang dipandang oleh orang banyak. Sementara si kaya, karena kebesaran kuasa Allah, telah jatuh jatuh miskin, kehilangan semua harta kekayaannya. ᨆᨄᨀᨚᨊᨗᨑᨚ ᨌᨑᨗᨈᨊ ᨒ ᨅᨗᨕᨘ Mappakkoniro caritana La Biu Demikianlah cerita La Biu Sumber Cerita Sastra Bugis Klasik tulisan Nur Azizah Syahril terbitan tahun 1999 dengan berbagai perbaikan dan penyesuaian. Dalam teks sumber saya mengambil cerita ini, yang berbahasa Indonesia dan berbahasa bugis dalam huruf latin, ada berbagai ketidaksesuaian antara terjemahan dan cerita dalam latin bugisnya, sehingga saya menyesuaikan keduanya dan menerjemahkannya kembali secara literal, mendekati arti yang sebenarnya dari kata-kata dalam bahasa bugis. Dalam tulisan ini, saya mereverse-translate ke aksara bugis/lontara dengan pengetahuan yang seadanya sehingga mungkin ada beberapa kesalahan yang sekiranya dapat dimaklumi. Namun arti dari kata-katanya secara arti, Insya Allah tidak jauh dari yang sebenarnya. Disini saya menuliskan "E" dan "e" untuk menunjukkan perbedaan dua pengucapan untuk huruf e. 'E' memiliki pelafalan yang sama dengan e pada kata "A I U E O e", sementara 'e' merujuk pada "A I U E O e" Arti kata benni Dalam tradisi suku bugis, untuk memasak nasi, beras yang sudah digiling terlebih dahulu harus ditapi ᨉᨗᨈᨄᨗ yang maksudnya adalah di saring dengan pattapi ᨄᨈᨄᨗ. Pattapi terbuat dari anyaman rotan yang berbentuk lingkaran selebar pelukan orang dewasa atau diameter sekitar 50 cm. Dengan pattapi ini, beras dilempar-lemparkan untuk memisahkan beras yang baik dengan pecahan-pecahan sisa-sisa beras yang kecil dan juga rumput/batu-batu kecil atau benda lainnya yang ikut pada beras. Pecahan-pecahan sisa-sisa beras inilah yang disebut dengan benni. Benni sebenarnya bukan untuk dimakan oleh manusia, melainkan untuk ternak, seperti ayam. Dalam cerita La Biu, mereka digambarkan memakan benni untuk menunjukkan betapa melaratnya mereka.
BATU MENANGIS ATAU BATU BERANAK BATU MEMMANA`E BATU MEMMANA`E Engkana ritu seuwwa wettu ri tana Bone, sibola marana` marindo`. Indo`na maka gello na makessing ampena, naikiyy...
Majalah Nabawi – Lain padang lain belalangnya, lain lubuk lain ikannya. Ini satu peribahasa yang menunjukkan bahwa setiap negara mempunyai ciri khas yang berbeda-beda tak terkecuali di Indonesia. Bangsa Indonesia kaya akan keragaman suku, agama, dan bahasa. Hal tersebut memungkinkan adanya penelitian di bidang cerita rakyat. Pengetahuan dan penelitian cerita rakyat sangat cocok untuk inventarisasi, dokumentasi, dan referensi. Dalam pencarian jati diri bangsa Indonesia, sangat penting untuk menelusuri keberadaan cerita rakyat sebagai bagian dari budaya dan TradisiBudaya adalah entitas kompleks yang mencakup pengetahuan, kepercayaan, seni, hukum, moral, adat istiadat, dan semua keterampilan serta kebiasaan lain yang ada pada setiap orang sebagai anggota masyarakat. Ia merupakan bentuk buatan manusia yang sekurang-kurangnya memiliki tiga wujud, yaitu 1 wujud kebudayaan sebagai seperangkat gagasan, nilai, norma dan peraturan. 2 Wujud kebudayaan sebagai aktivitas masyarakat yang terstruktur. Dan 3 wujud budaya sebagai objek ciptaan manusia. Jelas Koentjaraningrat dalam Mattulada, 19971. Tradisi adalah kebiasaan yang diwariskan secara turun-temurun dari suatu kelompok masyarakat berdasarkan nilai-nilai budaya individu yang bersangkutan. Tradisi anggota masyarakat berperilaku baik dalam hal sekuler dan okultisme dan agama Esten, 199921.Mengenal Suku BugisSuku Bugis, adalah salah satu suku terbesar di Sulawesi Selatan yang memiliki nilai budaya tersendiri. Salah satu kekayaan budaya Bugis adalah cerita rakyat. Dalam masyarakat Bugis, cerita rakyat biasanya turun dari generasi ke generasi melalui mulut ke mulut. Jenis tuturan lisan ini sering kita sebut sebagai sastra lisan. Namun, penulis menggunakan kata cerita rakyat karena merupakan bidang kajian yang lebih luas dan mencakup sastra Bugis adalah suku yang termasuk dalam suku Melayu Deutero. Suku ini datang ke Nusantara setelah gelombang migrasi pertama dari daratan Asia, lebih khusus dari Tengah Selatan. Kata “Bugis” berasal dari To Ugi yang berarti “Orang Bugis”. Nama “Ugi” mengacu pada raja pertama Kerajaan Cina di Pammana, sekarang Kabupaten Wajo, yaitu La Sattumpag. Ketika orang-orang La Sattumpag menamai diri mereka sendiri, mereka mengacu pada raja. Mereka menyebut dirinya Ugi atau orang atau pengikut The Bugis adalah penduduk asli Sulawesi Selatan. Masyarakat Bugis ini tersebar di Kabupaten Luwu, Bone, Wajo, Soppeng, Sidrap, Pinrang, Sinjai, dan Barru. Selain etnis Melayu dan Minangkabau yang bermigrasi ke Sulawesi dari Sumatera sejak abad ke-15 sebagai administrator dan pedagang di Kerajaan Gowa juga tergolong Bugis. Menurut sensus tahun 2000, penduduk Bugis berjumlah 6 juta jiwa. Kini suku Bugis juga telah menyebar ke provinsi Sulawesi Tenggara, Sulawesi Tengah, Papua, Kalimantan Timur, Kalimantan Selatan bahkan sampai ke luar negeri. Suku Bugis adalah salah satu suku yang mengamalkan ajaran Islam dengan penuh bisa berbentuk lisan atau tulisan. Pada zaman dahulu, Suku Bugis menggunakan dua cara komunikasi tersebut. Secara lisan mereka berkomunikasi menggunakan bahasa Bugis, sedangkan secara tulisan mereka memiliki aksara sendiri yang bernama Lontara. Menurut penjelasan di Jurnal Al – Ulum Volume 12, No. 1, Tahun 2012, aksara ini merupakan manuskrip yang ditulis dengan alat tajam di atas daun lontar. Kemudian ditambah cairan hitam pada bekas goresannya. Namun hingga saat ini, belum ada kejelasan mengenai awal mula munculnya aksara ini. Namun aksara Lontara muncul di beberapa naskah kuno masyarakat Bugis. Jurnal tersebut juga menjelaskan beberapa naskah kuno yang menjadi bagian dari kebudayaan pos
ᨕᨑᨍ ᨕᨙ ᨑᨗ ᨔᨛᨁᨙᨑᨗ ᨑᨗ ᨕᨚᨒᨚ ᨕᨛᨃ ᨔᨙᨉᨗ ᨓᨛᨈᨘ ᨊᨉᨙ ᨆᨊᨛ ᨊᨄᨚᨒᨙ ᨕᨔᨙᨊ ᨄᨒᨕᨚ ᨑᨘᨆᨕᨙ᨞ ᨑᨗᨆᨀᨘᨕᨊᨑᨚ ᨊᨆᨄᨛᨉᨗ ᨆᨊᨛ ᨈᨕᨘ ᨕᨙ ᨑᨗ ᨔᨛᨁᨙᨑᨗ᨞ ᨓᨛᨈᨘ ᨐᨛᨑᨚ ᨕᨑᨘ ᨆᨄᨑᨙᨈ ᨑᨗᨕᨔᨛᨂᨙ 'ᨄᨍᨘ ᨒ ᨈᨛᨋᨗ ᨔᨛᨔᨘ ᨄᨛᨈ ᨈᨚᨒᨕᨘ ᨑᨗᨈᨛᨒ ᨕ ᨄᨍᨘ ᨒᨒᨚᨕᨙ'᨞ ᨕᨗᨐᨈᨚᨊᨑᨚ ᨕᨑᨘ ᨄᨆᨘᨒ ᨕᨙ ᨑᨗ ᨔᨛᨁᨙᨑᨗ᨞ ᨑᨗᨔᨙᨕᨘᨓᨕᨙ ᨓᨛᨊᨗ ᨕᨛᨃ ᨈᨕᨘ ᨆᨛᨊᨗᨄᨗ ᨑᨗ ᨒᨗᨔᨛᨊ ᨔᨕᨚᨑᨍ ᨕᨙ ᨕᨗᨐᨊᨑᨗᨈᨘ 'ᨄᨘᨕ ᨆᨈᨚᨕ'᨞ ᨊᨕᨗᨐ ᨑᨚ ᨄᨘᨕ ᨆᨈᨚᨕ ᨊᨕᨗᨈ ᨕᨛᨃ ᨈᨕᨘ ᨆᨔᨘᨑᨘᨅᨛ ᨄᨚᨕᨂᨗ ᨆᨀᨛᨉ ᨊᨕᨙᨃᨒᨗᨂᨊ ᨕᨑᨘᨂᨙ ᨕᨗᨊᨗᨄᨗᨊ 'ᨄᨘᨕ ᨆᨈᨚᨕ' ᨊᨄᨉᨛᨄᨘᨂᨛᨊᨗ ᨈᨚᨕᨌᨊ ᨔᨛᨁᨙᨑᨗ᨞ ᨊ ᨔᨗᨃᨛᨑᨘᨕ ᨊᨗ ᨆᨀᨛᨉ ᨕᨙ ᨑᨗ ᨕᨛᨔᨚ ᨍᨘᨆ ᨕᨙ ᨆᨕᨙᨒᨚ ᨒᨕᨚ ᨑᨗᨕᨒ ᨑᨀᨒ ᨊ ᨊᨗᨄᨗ ᨕᨙ 'ᨄᨘᨕ ᨆᨈᨚᨕ'᨞ ᨊᨉᨄᨗ ᨊᨗ ᨓᨛᨈᨘ ᨍᨘᨆ ᨄᨉ ᨒᨕᨚ ᨈᨚᨂᨛ ᨊᨗ ᨄᨔᨘᨑᨚᨊ ᨕᨑᨘ ᨕᨙ ᨊᨕᨗᨕ ᨆᨀᨓᨛ ᨊ ᨅᨘᨒᨘ ᨕᨙ ᨑᨚ ᨉᨙᨋᨙ ᨑᨗᨄᨒᨙᨌᨙ ᨑᨗᨕᨚᨒᨚᨊᨗ 'ᨄᨘᨕ ᨓᨈᨚᨕ'᨞ ᨆᨈᨛᨑᨘ ᨆᨙᨋᨙ ᨑᨗ ᨌᨚᨄᨚᨊ ᨅᨘᨒᨘ ᨕᨛᨃ ᨈᨚᨂᨛ ᨊ ᨊᨕᨗᨈ ᨑᨀᨒ ᨆᨉᨙᨉᨙ ᨒᨚᨁ ᨒᨚᨁᨊ᨞ ᨁᨉ ᨊᨕᨗᨈ ᨆᨊᨛ ᨊᨗ ᨈᨕᨘ ᨆᨕᨙᨁ ᨕᨙ᨞ ᨊᨔ ᨆᨈᨘᨑᨘᨔᨗᨊᨗ ᨄᨉ ᨆᨀ ᨕᨗ ᨊᨕᨗᨊᨄ ᨊᨄᨒᨙᨌᨙ ᨊᨗ ᨒᨕᨚ ᨑᨗ ᨕᨚᨋᨚ ᨆᨌᨀ ᨕᨙ᨞ ᨄᨉ ᨆᨄᨑᨙᨔᨊᨗ ᨀᨘᨕᨑᨗᨈᨘ᨞ ᨆᨂ ᨆᨊᨛᨊᨗ ᨈᨕᨘ ᨆᨕᨙᨁ ᨕᨙ ᨆᨗᨈᨕᨗ ᨊᨔᨅ ᨕᨗᨐᨑᨚ ᨑᨀᨒ ᨕᨙ ᨉᨙᨁᨁ ᨄᨈᨛ ᨕᨍᨘ ᨈᨔᨗᨄᨚᨒᨚ ᨄᨚᨒᨚ᨞ ᨔᨆᨊ ᨑᨗᨈ ᨕᨍᨘ ᨈᨛᨆᨀ ᨑᨍᨊ ᨑᨗᨓᨗᨋᨘ ᨆᨏᨍᨗ ᨑᨀᨒ᨞ ᨑᨗᨓᨛᨈᨘ ᨑᨗᨈᨗᨓᨗ ᨊ ᨑᨀᨒ ᨕᨙ ᨑᨚ ᨒᨕᨚ ᨑᨗ ᨔᨛᨁᨙᨑᨗ ᨈᨛᨆᨀ ᨕᨙᨁᨊ ᨈᨕᨘ ᨉᨘᨄ ᨕᨗ᨞ ᨄᨉ ᨈᨛᨈᨚ ᨑᨗ ᨓᨗᨑᨗ ᨊ ᨒᨒᨛ ᨕᨙ᨞ ᨊᨄᨉᨗ ᨊ ᨑᨗᨔᨛᨁᨙᨑᨗ ᨑᨗᨄᨈᨘᨒᨗᨒᨗ ᨑᨗ ᨀᨇᨚ ᨕᨙᨑᨚ᨞ ᨑᨗᨄᨒᨙᨌᨙ ᨑᨗᨕᨚᨒᨚ ᨕᨗ 'ᨄᨘᨕ ᨆᨈᨚᨕ' ᨔᨗᨅᨓ ᨔᨗᨊᨗᨊ ᨅᨗᨔᨘ ᨕᨙ᨞ ᨆᨀᨚᨊᨘᨈᨚᨑᨚ ᨆᨈᨘᨒᨗᨒᨗᨊ ᨊᨈᨄ ᨄᨚᨒᨙ ᨅᨚᨔᨗ ᨒᨚᨄᨚ ᨕᨙ᨞ ᨆᨀᨛᨉ ᨊᨗ 'ᨄᨘᨕ ᨆᨈᨚᨕ' ᨕᨗᨐᨊ ᨕᨙ ᨈᨋ ᨆᨕᨙᨒᨚ ᨊᨗ ᨄᨚᨒᨙ ᨕᨔᨙ ᨑᨗ ᨔᨛᨁᨙᨑᨗ᨞ ᨄᨘᨑ ᨆᨊᨛ ᨊᨗ ᨑᨗᨕᨈᨘᨒᨗᨒᨗ ᨀᨇᨚ ᨕᨙ ᨑᨗᨈᨗᨓᨗ ᨊᨗ ᨑᨀᨒ ᨕᨙ ᨒᨕᨚ ᨑᨗ ᨔᨙᨉᨗ ᨕᨙ ᨅᨚᨒ ᨒᨚᨄᨚ᨞ ᨅᨚᨒ ᨈᨋᨙ᨞ ᨕᨗᨐ ᨑᨚ ᨅᨚᨒᨕᨙ ᨕᨛᨃ ᨁᨑᨙ ᨄᨈᨄᨘᨒᨚ ᨕᨒᨗᨑᨗᨊ᨞ ᨈᨔᨙᨉᨗ ᨕᨙ ᨕᨒᨗᨑᨗ ᨈᨛᨆᨀ ᨑᨍᨊ᨞ ᨔᨗᨅᨓ ᨈᨛᨈᨛ ᨆᨛᨈᨚᨕᨗ ᨆᨒᨙᨅᨘ ᨄᨉ ᨈᨚᨔᨀ ᨕᨍᨘ ᨈᨘᨕᨚ ᨕᨙ᨞ ᨊᨕᨗᨕ ᨑᨗᨒᨒᨛᨇᨚᨒ ᨑᨗ ᨕᨙᨅᨘ ᨑᨚᨕᨂᨗ ᨑᨛᨋᨗ ᨒᨓ ᨈᨛᨂ᨞ ᨕᨛᨃ ᨈᨛᨒᨘ ᨑᨛᨋᨗ ᨒᨓ ᨈᨛᨂᨊ᨞ ᨊᨔᨅ ᨕᨗᨐᨑᨚ ᨅᨚᨒᨕᨙ ᨄᨈ ᨒᨈᨛ ᨕᨗ᨞ ᨊᨄᨊᨗ ᨕᨛᨃᨈᨚ ᨑᨀᨙᨕᨊ᨞ ᨀᨚᨊᨗᨑᨚ ᨑᨗᨕᨔᨛ ᨊ ᨑᨒᨙᨕ ᨕᨙ ᨕᨚᨋᨚᨊ ᨄᨀᨀᨔᨊ 'ᨄᨘᨕ ᨆᨈᨚᨕ' ᨔᨗᨅᨓ ᨔᨗᨊᨗᨊ ᨌᨒᨅᨕᨗ ᨕᨙ᨞ ᨊᨕᨗᨕ ᨕᨚᨋᨚᨊ ᨑᨀᨒ ᨕᨙ ᨀᨚᨕᨗ ᨒᨈᨛ ᨀᨆᨗᨊ ᨑᨗ ᨆᨘᨋᨗ ᨕᨙ᨞ ᨀᨚᨈᨚᨆᨗᨑᨚ 'ᨄᨘᨕ ᨆᨈᨚᨕ' ᨆᨈᨗᨋᨚ᨞ ᨊᨕᨗᨕ ᨑᨀᨒ ᨕᨙᨑᨚ ᨑᨗᨈᨛᨒ ᨈᨚᨊᨗ 'ᨕᨑᨍ ᨕᨙ'᨞ ᨑᨗᨄᨉᨙᨌᨙᨂᨗ ᨕᨚᨋᨚᨊ᨞ ᨑᨗᨕᨛᨅᨘᨑᨛ ᨅᨚᨌᨚ᨞ ᨄᨉ ᨈᨚᨔᨖ ᨈᨕᨘ ᨅᨗᨕᨔ ᨕᨙ᨞ ᨒᨈᨛ ᨆᨀ ᨉᨘᨕ ᨕᨙ ᨄᨚᨒᨙ ᨑᨗ ᨆᨘᨋᨗ ᨊᨕᨚᨋᨚ ᨕᨗ ᨅᨗᨔᨘ ᨆᨌᨕᨙ ᨆᨍᨚᨁᨙ᨞ ᨊᨕᨗᨕ ᨒᨈᨛ ᨆᨀ ᨈᨛᨒᨘ ᨕᨙ ᨊᨕᨚᨋᨚ ᨕᨗ ᨌᨒᨅᨕᨗ ᨊᨄ ᨕᨙ ᨆᨁᨘᨑᨘ ᨆᨍᨚᨁᨙ᨞ ᨊᨕᨗᨕ ᨒᨈᨛ ᨆᨚᨋᨗ ᨔᨒᨗᨓᨛ ᨕᨙ ᨑᨗᨈᨑᨚᨂᨛ ᨕᨗ ᨈᨕᨘ ᨄᨚᨒᨙ ᨓᨙ᨞ ᨑᨗᨄᨚᨏᨚᨀᨗ ᨌᨑᨗᨈ ᨕᨙ᨞ ᨊᨕᨗᨕᨑᨚ ᨉᨙᨋᨑ 'ᨕᨑᨍ ᨕᨙ' ᨕᨗᨕᨊᨑᨗᨈ ᨑᨀᨒ ᨑᨗ ᨒᨕᨗᨊ ᨕᨙ ᨈᨚᨄ ᨄᨕᨗᨓᨛ ᨄᨀᨀᨔ᨞ ᨄᨀᨀᨔ ᨔᨀᨛ ᨑᨘᨄᨛᨊ ᨑᨗᨄᨔᨘ ᨕᨗ ᨊᨑᨙᨀᨚ ᨆᨕᨙᨅᨘᨀᨗ ᨕᨘᨄᨌᨑ ᨕᨘᨄᨌᨑ ᨄᨒᨗᨒᨗ᨞ ᨊᨕᨗᨕᨑᨚ ᨕᨘᨄᨌᨑ ᨄᨒᨗᨒᨗ ᨕᨙ ᨑᨗᨄᨚᨁᨕᨘ ᨕᨙ ᨊᨑᨙᨀᨚ ᨆᨂᨚᨒᨚᨊᨗ ᨅᨑᨛ ᨕᨙ᨞ ᨑᨗᨕᨚᨅᨗᨊᨗ 'ᨄᨘᨕ ᨆᨈᨚᨕ'᨞ ᨄᨘᨁᨓᨊ ᨅᨗᨔᨘᨕᨙ᨞ ᨅᨗᨕᨔ ᨆᨛᨈᨚ ᨈᨗᨕᨔᨛ ᨔᨋᨚ᨞ ᨕᨗᨕ ᨆᨀᨚᨕᨙ ᨑᨗᨕᨔᨛᨂᨗ 'ᨔᨋᨚ ᨔᨚᨀᨚ'᨞ ᨔᨋᨚ ᨕᨙ ᨉᨙᨋᨙ ᨄᨈᨛᨈᨘ ᨕᨙ ᨓᨛᨈᨘ ᨆᨕᨙᨒᨚᨊ ᨆᨄᨆᨘᨒ ᨍᨚᨄ 'ᨕᨘᨄᨌᨑ ᨄᨒᨗ'᨞ ᨅᨗᨕᨔᨊ ᨑᨗᨈᨘ ᨄᨆᨘᨒᨕᨗ ᨓᨛᨈᨘ ᨕᨔᨙᨑ ᨕᨚᨇᨚᨊ ᨀᨙᨈᨛ ᨕᨙ᨞ ᨕᨗᨕᨑᨙᨁ ᨊ ᨕᨔᨙᨑ ᨈᨛᨒᨅᨘᨊ ᨀᨙᨈᨛ ᨕᨙ᨞ ᨊᨑᨙᨀᨚ ᨆᨕᨙᨒᨚ ᨑᨗᨄᨊᨚ 'ᨕᨑᨍ ᨕᨙ' ᨔᨗᨊᨗᨊ ᨌᨒᨅᨕᨗ ᨕᨙ ᨑᨗ ᨒᨒᨛ ᨄᨚᨒ ᨄᨉ ᨆᨄᨘᨕᨔ ᨆᨊᨛ ᨕᨗ ᨈᨛᨒᨘ ᨕᨛᨔᨚ ᨈᨛᨒᨘ ᨄᨛᨊᨗ᨞ ᨔᨗᨅᨓ ᨄᨕᨗᨊᨛ ᨉᨙᨈᨚ ᨓᨛᨉᨗ ᨆᨈᨗᨋᨚ᨞ ᨑᨗᨕᨉᨚᨍ ᨕᨗ 'ᨕᨑᨍ ᨕᨙ'᨞ ᨈᨛᨒᨘ ᨕᨛᨔᨚ ᨈᨛᨒᨘ ᨄᨛᨊᨗ ᨆᨍᨚᨁᨙ ᨌᨒᨅᨕᨗ ᨕᨙ ᨔᨗᨅᨓ ᨉᨙᨊᨓᨛᨉᨗ ᨀᨘᨑ ᨄᨈᨄᨘᨒᨚ ᨌᨒᨅᨕᨗ᨞ ᨑᨗᨒᨒᨛᨊ ᨕᨍᨚᨁᨙᨀᨛ ᨕᨙ ᨊᨑᨚ ᨆᨄᨆᨘᨒᨊᨗ ᨑᨗᨄᨊᨚ 'ᨕᨑᨍ ᨕᨙ'᨞ ᨑᨗᨄᨒᨙᨌᨙ ᨑᨗᨕᨚᨒᨚᨊᨗ ᨔᨋᨚ ᨕᨙ᨞ ᨕᨗᨕᨆᨘᨈᨚ ᨑᨗᨕᨔᨛ ᨄᨘᨕ ᨆᨈᨚᨕ᨞ ᨆᨂᨚᨒᨚᨊᨗ ᨄᨘᨕ ᨓᨈᨚᨕ ᨒᨕᨚ ᨑᨗ ᨕᨑᨍ ᨕᨙ ᨊᨕᨗᨊᨄ ᨆᨀᨙᨒᨚ᨞ ᨑᨗᨕᨌᨚᨓᨙᨑᨗ ᨒᨕᨚ ᨑᨗ ᨌᨒᨅᨕᨗ ᨕᨙ ᨕᨗᨕ ᨆᨊᨛ᨞ ᨕᨙᨒᨚ ᨄᨆᨘᨒ ᨕᨙ ᨕᨗᨕᨊᨑᨗᨈᨘ ᨕᨙᨒᨚ ᨄᨈᨛᨉᨘ 'ᨕᨚᨇ' ᨑᨗᨅᨒᨗ ᨄᨚᨒᨙ ᨑᨗᨌᨒᨅᨕᨗ ᨒᨕᨗ ᨕᨙ 'ᨅᨈᨑᨗ'᨞ ᨆᨉᨙᨌᨙᨂ ᨕᨗ ᨄᨉ ᨆᨘᨕᨀᨒᨗᨂ ᨕᨙᨒᨚᨊ ᨅᨗᨔᨘ ᨊᨔᨛ ᨕᨗ ᨅᨗᨌᨑ ᨈᨚ ᨑᨗ ᨒᨂᨗ ᨕᨗᨕᨊᨑᨗᨈᨘ ᨕᨙᨒᨚ ᨄᨈᨛᨉᨘ ᨕᨑᨍ ᨞ ᨈᨛᨉᨘᨉᨘᨀ ᨉᨙᨋᨙ ᨆᨑᨗᨂᨚ ᨞ ᨁᨚᨍᨛᨂ ᨉᨙᨋᨙ ᨆᨒᨛᨈᨘ ᨞ ᨆᨒᨛᨈᨘ ᨑᨗ ᨕᨒᨛ ᨒᨘᨓᨘ ᨞ ᨆᨊᨗᨂᨚ ᨑᨗ ᨓᨈ ᨄᨑᨙ᨞ ᨒᨛᨄᨛᨕᨗ ᨕᨙᨒᨚᨊ ᨄᨘᨕ ᨆᨈᨚᨕ ᨉᨙᨋᨙ ᨈᨄ ᨑᨗᨅᨒᨗ ᨊᨗ ᨄᨚᨒᨙ ᨄᨈᨄᨘᨒᨚ ᨕᨙ ᨅᨗᨔᨘ ᨕᨗᨕᨊᨑᨗᨈᨘ ᨈᨚᨀᨚᨀᨚ ᨆᨘᨈᨘᨒᨙ ᨈᨘᨒᨙ ᨞ ᨆᨘᨈᨘᨒᨙ ᨈᨘᨒᨙ ᨈᨗᨆᨍᨘ ᨞ ᨆᨘᨕᨕᨗᨕᨔᨛ ᨕᨔᨛ ᨀᨙᨊᨙ ᨞ ᨀᨘᨔᨗᨒᨄᨛ᨞ ᨊᨘᨔᨗᨒᨑᨛ ᨒᨑᨛ ᨀᨙᨊᨙ ᨞ ᨆᨘᨔᨗᨊᨚᨑᨛ ᨆᨘᨔᨗᨊᨚᨑᨛ ᨞ ᨊᨀᨒᨙᨄᨘ ᨒᨚᨒᨄᨙ ᨞ ᨒᨚᨒᨚᨂᨙ ᨊᨘᨌᨚᨀᨚᨂᨗᨐ ᨞ ᨒᨗᨄᨘ ᨆᨑᨚᨋᨘᨔᨗᨐᨚ᨞ ᨊᨘᨒᨙᨈᨘ ᨑᨗ ᨈᨚᨇᨚ ᨈᨗᨀ ᨞ ᨊᨊᨗᨂᨚ ᨑᨗ ᨔᨓ ᨆᨛᨁ ᨞ ᨈᨛᨉᨘᨀ ᨉᨙᨋᨙ ᨆᨊᨗᨂᨚ ᨞ ᨁᨚᨍᨙᨂ ᨉᨙᨋᨙ ᨊᨒᨙᨈᨘ᨞ ᨈᨛᨉᨘᨀ ᨉᨙᨋᨙ ᨆᨊᨗᨂᨚ ᨞ ᨁᨚᨍᨙᨂ ᨉᨙᨋᨙ ᨆᨒᨙᨈᨘ ᨞ ᨆᨒᨛᨈᨘ ᨑᨗ ᨈᨊ ᨈᨙᨀᨚ ᨞ ᨆᨊᨗᨂᨚ ᨑᨗ ᨓᨙᨓ ᨑᨗᨐᨘ ᨞ ᨈᨛᨉᨘᨀ ᨉᨙᨋᨙ ᨆᨊᨗᨂᨚ ᨞ ᨁᨚᨍᨙᨂ ᨉᨙᨋᨙ ᨆᨒᨙᨈᨘ ᨞ ᨆᨒᨙᨈᨘ ᨑᨗ ᨄᨑᨈᨗᨓᨗ ᨞ ᨆᨊᨗᨂᨚ ᨑᨗ ᨈᨚᨍ᨞ ᨈᨛᨉᨘᨀ ᨉᨙᨋᨙ ᨆᨊᨗᨂᨚ ᨞ ᨁᨚᨍᨙᨂ ᨉᨙᨋᨙ ᨆᨒᨙᨈᨘ ᨞ ᨆᨒᨙᨈᨘ ᨑᨗ ᨄᨑᨈᨗᨓᨗ ᨞ ᨆᨊᨗᨂᨚ ᨑᨗ ᨕᨘᨍᨘ ᨒᨍᨘ᨞ ᨈᨛᨉᨘᨀ ᨉᨙᨋᨙ ᨆᨊᨗᨂᨚ ᨞ ᨁᨚᨍᨙᨂ ᨉᨙᨋᨙ ᨆᨒᨙᨈᨘ ᨞ ᨆᨒᨙᨈᨘ ᨑᨗ ᨅᨚᨈᨗ ᨒᨂᨗ ᨞ ᨆᨊᨗᨂᨚ ᨑᨗ ᨑᨘᨕ ᨒᨙᨈᨙ᨞ ᨈᨛᨉᨘᨀ ᨉᨙᨋᨙ ᨆᨊᨗᨂᨚ ᨞ ᨁᨚᨍᨙᨂ ᨉᨙᨋᨙ ᨆᨒᨙᨈᨘ ᨞ ᨆᨒᨙᨈᨘ ᨑᨗ ᨓᨗᨑᨗ ᨒᨂᨗ ᨞ ᨆᨊᨗᨂᨙ ᨑᨗ ᨅᨚᨀᨚ ᨅᨈᨑ᨞ ᨈᨛᨉᨘᨀ ᨉᨙᨋᨙ ᨆᨊᨗᨂᨚ ᨞ ᨁᨚᨍᨙᨂ ᨉᨙᨋᨙ ᨆᨒᨙᨈᨘ ᨞ ᨆᨒᨙᨈᨘ ᨔᨒᨗᨓᨙ ᨒᨂᨗ ᨞ ᨆᨊᨗᨂᨚ ᨑᨗ ᨑᨘᨕ ᨒᨙᨈᨙ᨞ ᨈᨛᨉᨘᨀ ᨉᨙᨋᨙ ᨆᨊᨗᨂᨚ ᨞ ᨁᨚᨍᨙᨂ ᨉᨙᨋᨙ ᨆᨒᨙᨈᨘ ᨞ ᨆᨒᨙᨈᨘ ᨑᨗ ᨕᨒᨙ ᨆᨓ ᨞ ᨆᨊᨗᨂᨚ ᨑᨗ ᨕᨒᨙ ᨒᨗᨊᨚ᨞ ᨊᨑᨙᨀᨚ ᨄᨘᨑ ᨊᨗ ᨕᨙᨒᨚ ᨊ ᨅᨗᨔᨘ ᨕᨙ ᨆᨕᨙᨁ ᨕᨙᨑᨚ ᨉᨙᨋᨙ ᨊᨔᨚᨇᨘᨔᨗ ᨄᨕᨗᨆᨛ 'ᨄᨘᨕ ᨆᨈᨚᨕ' ᨕᨗᨕᨊᨑᨗᨈᨘ ᨈᨚᨀᨚᨊᨗ ᨆᨊᨘᨑᨘ ᨕᨙ ᨞ ᨈᨛᨒᨊᨗ ᨕᨑᨍ ᨕᨙ ᨞ ᨈᨁᨗᨒᨗᨀᨗᨒᨗ ᨑᨗ ᨈᨚᨒᨚ ᨞ ᨊᨕᨘᨒᨙᨈᨘ ᨑᨗ ᨈᨘᨒᨉᨚ ᨞ ᨈᨈᨙᨑᨙ ᨉᨗᨕᨉ ᨅᨗᨔᨘ ᨞ ᨆᨓᨀ ᨑᨗ ᨄᨘᨂᨚ ᨄᨘᨂᨚ ᨞ ᨉᨙᨋᨙ ᨈᨒᨁ ᨈᨒᨁ ᨑᨗ ᨒᨂᨗ ᨞ ᨆᨙᨋᨛ ᨈᨚᨍ ᨑᨗ ᨅᨈᨑ ᨞ ᨔᨒᨆ ᨑᨗ ᨆᨘᨒ ᨍᨍᨗ ᨞ ᨄᨛᨉᨗ ᨕᨙ ᨑᨗᨆᨘᨒ ᨌᨄᨙᨑᨙ ᨞ ᨆᨕᨙᨌᨚᨒᨚᨀ ᨑᨗ ᨔᨆᨒᨙ ᨞ ᨆᨉᨄᨙ ᨉᨄᨙ ᨌᨀᨙᨒ ᨞ ᨆᨈ ᨑᨗ ᨈᨚᨍ ᨕᨌᨀᨒᨗ ᨞ ᨀᨘᨔᨙᨑᨚ ᨀᨘᨉᨚᨕᨂᨗ ᨞ ᨀᨘᨔ ᨓᨔᨛᨀᨗᨕᨂᨗ ᨞ ᨆᨄᨍᨊᨙ ᨈᨚ ᨑᨗ ᨒᨂᨗ ᨞ ᨆᨌᨘᨅᨙ ᨈᨚ ᨑᨗ ᨅᨈᨑ᨞ ᨕᨗᨉᨗᨑᨚ ᨕᨗᨊ ᨇᨗᨔᨘᨔᨘ ᨕᨙ ᨞ ᨈᨚᨈᨚ ᨕᨊᨘᨑᨘ ᨕᨙᨂᨂᨙ ᨞ ᨅᨗᨕᨔ ᨑᨗ ᨓᨑᨘ ᨕᨙᨂᨂᨙᨉᨙ ᨞ ᨈᨚ ᨊᨀᨛᨉ ᨉᨙᨓᨈ ᨕᨙ᨞ ᨆᨄᨂᨚ ᨔᨗᨕ ᨔᨉᨈ ᨞ ᨆᨄᨙᨔ ᨄᨈᨗᨕᨂᨈ ᨞ ᨈᨘᨑᨘᨕᨗ ᨄᨄᨙᨂᨂᨙ᨞ ᨆᨉᨙᨀᨗ ᨕᨔᨑ ᨕᨙ ᨞ ᨔᨗᨀᨗᨑᨗ ᨄᨘᨂᨚ ᨄᨘᨂᨚ ᨕᨙ ᨞ ᨕᨒᨚᨆᨀᨙᨂᨂᨙ ᨞ ᨑᨕᨘ ᨀᨍᨘ ᨕᨅᨘᨔᨘᨂᨙ᨞ ᨆᨄᨀᨚᨊᨗᨑᨚ ᨕᨙᨒᨚᨊ ᨕᨑᨍ ᨕᨙ᨞ ᨊᨑᨙᨀᨚ ᨓᨚᨈᨚ ᨊᨗ ᨕᨑᨍ ᨕᨙ ᨑᨗᨄᨄᨚᨒᨙᨊᨗ ᨆᨈᨚᨕ ᨔᨛᨁᨙᨑᨗ ᨔᨗᨅᨓ ᨄᨘᨕ ᨆᨈᨚᨕ᨞ ᨆᨄᨆᨘᨒᨕᨗ ᨆᨈᨚᨕ ᨔᨛᨁᨙᨑᨗ ᨆᨍᨚᨁᨙ ᨔᨙᨑᨙ ᨔᨙᨑᨙ᨞ ᨆᨄᨀᨗᨈᨕᨘ ᨈᨕᨘ ᨑᨗᨈ᨞ ᨄᨘᨑᨕᨗᨑᨚ ᨆᨈᨑᨘ ᨈᨄ ᨑᨗᨔᨙᨒᨙ ᨑᨗᨄᨘᨕ ᨆᨈᨚᨕ᨞ ᨊᨕᨗᨕ ᨄᨘᨕ ᨆᨈᨚᨕ ᨆᨍᨚᨁᨙ ᨔᨙᨑᨙ ᨔᨙᨑᨙ ᨊᨌᨘᨕᨙᨑᨗᨓᨗ ᨕᨙᨒᨚ ᨕᨗᨕᨊᨑᨗᨈᨘ ᨕᨚ..... ᨑᨘᨓᨙ ᨕᨙᨕᨙᨕᨙ ᨞ ᨈᨀᨊ ᨅᨙᨒᨊᨕᨚ ᨕᨗᨍᨚᨓᨙ ᨞ ᨆᨗᨌᨘ ᨆᨗᨌᨘ ᨒᨂᨗ ᨕᨗᨍᨚᨕᨙ ᨞ ᨆᨒᨘᨔᨛᨀᨗᨐᨚ ᨅᨈᨑ ᨞ ᨔᨗᨕᨒ ᨕᨙ ᨄᨉ ᨅᨕᨗᨔᨛ ᨞ ᨆᨀᨈᨘ ᨕᨙ ᨄᨉ ᨓᨒᨙᨊ ᨞ ᨕᨚᨕᨚᨕᨚ ᨑᨘᨓᨙ ᨕᨙ......᨞ ᨕᨙᨒᨚᨊ ᨄᨘᨕ ᨆᨈᨚᨕ ᨑᨗᨄᨀᨘᨒᨗ ᨀᨘᨒᨗ ᨕᨗ ᨁᨃᨊ ᨓᨙᨀ ᨈᨛᨒᨘ᨞ ᨄᨘᨑᨊᨗ ᨕᨙᨒᨚ ᨊ ᨄᨘᨕ ᨆᨈᨚᨕ ᨊᨍᨛᨄᨘᨕᨗᨊᨗ ᨆᨀᨛᨉ ᨕᨙ ᨆᨚᨈᨚ ᨊᨗᨑᨚ ᨕᨑᨍ ᨕᨙ᨞ ᨑᨗᨕᨙᨅᨘᨑᨛᨊᨗ ᨔᨋᨙᨔᨛ᨞ ᨆᨉᨛᨄᨘᨂᨛ ᨆᨊᨛᨊᨗ ᨈᨕᨘ ᨆᨕᨙᨁ ᨕᨙ᨞ ᨕᨗᨕᨊᨑᨗᨈᨘ ᨄᨒᨕᨚ ᨑᨗᨆ ᨕᨙ᨞ ᨄᨉᨀ ᨕᨙ᨞ ᨈᨚ ᨆᨄᨑᨙᨈ ᨕᨙ᨞ ᨕᨈ ᨄᨉ ᨒᨕᨚ ᨆᨊ ᨆᨒᨙᨇ ᨕᨘᨓ ᨕᨙ᨞ ᨄᨘᨑᨊᨗᨑᨚ ᨑᨗᨔᨛᨆᨙ ᨊᨗ ᨕᨑᨍ ᨕᨙ ᨄᨚᨒᨙ ᨑᨗ ᨄᨚᨕ ᨆᨈᨚᨕ᨞ ᨔᨗᨊᨗᨊ ᨈᨕᨘ ᨆᨕᨙᨁ ᨕᨙᨑᨚ ᨄᨉ ᨌᨛᨆᨙ ᨆᨊᨛᨊᨗ ᨑᨗᨕᨓ ᨕᨑᨍ ᨕᨙᨑᨚ᨞ ᨍᨍᨗ ᨊᨌᨛᨆᨙ ᨕᨗ ᨓᨕᨙ ᨌᨛᨆᨙ ᨊ ᨕᨑᨍ ᨕᨙ᨞ ᨊᨑᨙᨀᨚ ᨄᨘᨑ ᨊᨗ ᨌᨛᨆᨙ ᨕᨑᨍ ᨕᨙ ᨑᨗᨉᨚᨀᨚ ᨊᨗ ᨉᨕᨘ ᨕᨘᨈᨗ᨞ ᨕᨗᨕᨑᨚ ᨉᨕᨘ ᨕᨘᨈᨗ ᨕᨙ ᨄᨚᨒᨙ ᨑᨗ ᨀᨇᨚ ᨈᨀᨘ᨞ ᨌᨛᨇ ᨕᨙ᨞ ᨊ ᨔᨛᨁᨙᨑᨗ᨞ ᨊᨑᨙᨀᨚ ᨄᨘᨑ ᨊᨗ ᨑᨗ ᨉᨚᨀᨚ ᨕᨑᨍ ᨕᨙ ᨄᨉ ᨒᨕᨚ ᨆᨊᨛ ᨊᨗ ᨆᨒ ᨒᨕᨘ ᨒᨒᨙ᨞ ᨊᨔᨛ ᨈᨕᨘ ᨕᨙ ᨆᨒᨛᨀᨛ ᨒᨕᨘ ᨒᨒᨙ᨞ ᨊᨕᨗᨕ ᨑᨗᨕᨔᨛ ᨕᨙ ᨒᨕᨘ ᨒᨒᨙ ᨕᨗᨕᨊᨑᨗᨈᨘ ᨄᨚ ᨕᨘᨈᨗ ᨑᨗᨕᨒ ᨒᨚᨒᨚ ᨕᨘᨑᨛ ᨔᨗᨅᨓ ᨉᨕᨘᨊ ᨕᨗᨐᨆᨊᨛ᨞ ᨊᨕᨗᨐᨑᨚ ᨉᨙᨋᨙ ᨒᨕᨘ ᨒᨒᨙ ᨕᨙ ᨕᨊᨘ ᨊᨄᨔᨉᨗᨕ ᨆᨙᨆᨛ ᨀᨄᨒ ᨀᨇᨚ ᨈᨗᨇᨚᨑᨚᨂᨛ ᨕᨗᨕᨊᨑᨗᨈᨘ ᨔᨙᨉᨗ ᨀᨇᨚ ᨑᨗ ᨔᨛᨁᨙᨑᨗ᨞ ᨄᨚ ᨕᨘᨈᨗ ᨕᨙ ᨉᨙᨋᨙ ᨑᨚ ᨑᨗᨁᨈᨘᨂᨗ ᨔᨗᨅᨈᨘ ᨄᨊᨔ ᨆᨈᨔ᨞ ᨈᨋᨙᨊ ᨀᨗᨑ ᨀᨗᨑ ᨔᨗᨑᨛᨄ ᨞ ᨉᨘᨕ ᨀᨒᨘᨀᨘ᨞ ᨕᨛᨃ ᨈᨄ ᨄᨕᨗᨆᨛ ᨄᨐᨚᨔᨚᨊ ᨕᨗᨕᨊᨑᨗᨈᨘ ᨈᨀᨙ ᨅᨘᨅᨘᨂᨛ᨞ ᨕᨚᨈ᨞ ᨈᨛᨒᨙ᨞ ᨕᨑᨔᨚ᨞ ᨄᨚ ᨆᨒᨗ ᨆᨒᨗ᨞ ᨔᨗᨊᨗᨊ ᨕᨗᨕᨆᨊᨛ ᨕᨙ ᨑᨗᨕᨔᨗᨕᨚᨑᨛᨂᨗ ᨀᨚᨑᨗᨄᨚ ᨕᨘᨈᨗ ᨕᨙ ᨕᨗᨕᨊᨑᨚ ᨑᨗᨕᨔᨛ ᨄᨚ ᨕᨘᨈᨗ ᨒᨕᨘ ᨒᨒᨙ᨞ ᨕᨗᨕᨊᨑᨚ ᨉᨙᨋᨙ ᨒᨕᨘ ᨒᨒᨙ ᨕᨙ ᨑᨗᨕᨙᨅᨑᨚᨀᨚᨂᨗ ᨔᨙᨉᨗ ᨈᨚᨆᨈᨚᨕ ᨆᨌᨚᨕ ᨒᨉᨛᨊᨗ ᨕᨘᨆᨘᨑᨘᨊ᨞ ᨔᨗᨅᨓ ᨆᨒᨔ ᨈᨚᨕᨗ ᨄᨕᨗᨆᨛ᨞ ᨊᨈᨍᨛ ᨆᨊᨗ ᨕᨆᨈᨙᨂᨛᨊ᨞ ᨒᨕᨘ ᨒᨒᨙ ᨉᨙᨋᨙ ᨑᨗᨄᨔᨗᨉᨛᨄᨙ ᨕᨗ 'ᨕᨑᨍ ᨕᨙ'᨞ ᨄᨘᨑᨕᨗᨑᨚ ᨊᨀᨙᨒᨚᨊᨗ ᨄᨘᨕ ᨆᨈᨚᨕ ᨊᨄ ᨑᨗᨕᨌᨚᨕᨙᨑᨗ ᨄᨈᨄᨘᨒᨚ ᨅᨗᨔᨘ᨞ ᨕᨙᨒᨚ ᨊᨑᨚ ᨄᨉ ᨈᨚᨔ ᨕᨙᨒᨚᨊ ᨓᨛᨈᨘ ᨑᨗᨈᨛᨉᨘᨊ 'ᨕᨑᨍ ᨕᨙ'᨞ ᨊᨕᨙᨀᨗᨕ ᨊᨈᨅᨕᨗ ᨕᨙᨒᨚ ᨆᨛᨒᨉᨚᨕ ᨑᨗ ᨔᨛᨊᨕᨙ᨞ ᨔᨑᨙᨀᨘᨕᨆᨛᨂᨗ ᨕᨍ ᨊᨑᨗᨔᨙᨔ ᨒᨕᨘ ᨒᨒᨙ ᨑᨗᨒᨒᨛ ᨕᨛᨆᨉᨛᨂᨊ᨞ ᨊᨄ ᨒᨛᨄᨛᨊ ᨕᨙᨒᨚᨊ ᨄᨘᨕ ᨆᨈᨚᨕ ᨈᨛᨈᨚᨊᨗ ᨆᨈᨚᨕ ᨔᨛᨁᨙᨑᨗ ᨊᨑᨛᨉᨘᨕᨗ ᨄᨛᨉᨊ ᨊᨈᨘᨅᨂᨗ ᨒᨕᨘ ᨒᨒᨙ᨞ ᨕᨗᨕᨊᨑᨚ ᨑᨗᨕᨀᨒᨛᨅᨑᨀᨗ ᨈᨕᨘ ᨆᨈᨙ᨞ ᨔᨑᨙᨀᨘᨕᨆᨛᨂᨗ ᨕᨍ ᨊᨑᨗᨔᨙᨔ ᨑᨗᨒᨒᨛ ᨕᨂᨉᨂᨛᨊ᨞ ᨊᨄ ᨊᨕᨙᨒᨕᨘᨈᨚ ᨕᨗ ᨑᨗ ᨉᨙᨓᨈ ᨕᨙ ᨔᨑᨙᨀᨘᨕᨆᨛᨂᨗ ᨕᨍ ᨊᨋᨙᨕᨗ ᨕᨘᨒᨛ ᨕᨔᨙ ᨕᨙ᨞ ᨑᨗᨄᨒᨙᨈᨙᨕᨗ ᨌᨑᨗᨈᨕᨙ᨞ ᨑᨗᨓᨛᨈᨘ ᨒᨕᨚᨊ ᨈᨕᨘᨕᨙ ᨆᨒ ᨕᨘᨓᨕᨙ᨞ ᨊᨌᨚᨕᨙᨑᨗ ᨁᨛᨋ᨞ ᨁᨚ᨞ ᨕᨊ ᨅᨌᨗ᨞ ᨒᨕᨙ ᨒᨕᨙ᨞ ᨅᨛᨔᨗ ᨅᨋᨚᨂ᨞ ᨔᨗᨊᨗᨊ ᨄᨀᨀᨔ ᨕᨊᨘ ᨈᨚᨑᨗᨕᨚᨒᨚ᨞ ᨕᨛᨃ ᨈᨚᨄ ᨄᨑᨗᨆᨛ ᨄᨀᨀᨔᨊ ᨑᨗᨒᨕᨗᨂᨙ ᨕᨗᨕᨊᨑᨗᨈᨘ᨞ ᨉᨘᨕ ᨄᨗᨑᨗ ᨕᨚᨈ᨞ ᨉᨘᨕ ᨄᨗᨑᨗ ᨈᨛᨒᨚ᨞ ᨉᨘᨕ ᨄᨗᨑᨗ ᨑᨙᨈᨗ᨞ ᨉᨘᨕ ᨄᨗᨑᨗ ᨓᨛᨊᨚ᨞ ᨅᨑᨛ ᨄᨈᨋᨘᨄ ᨅᨑᨛ ᨑᨗᨉᨗ᨞ ᨅᨑᨛ ᨌᨛᨒ ᨔᨗᨅᨓ ᨅᨑᨛ ᨄᨘᨈᨙ᨞ ᨓᨛᨈᨘ ᨒᨛᨈᨘᨊ ᨉᨙᨋᨙᨑᨚ ᨑᨗ ᨔᨒᨚᨕᨙ ᨄᨘᨕ ᨆᨈᨚᨕ ᨊᨄᨆᨘᨒ ᨊᨚ ᨑᨗ ᨔᨒᨚᨕᨙ᨞ ᨆᨄᨆᨘᨒᨕᨗ ᨊᨄᨊᨚ ᨕᨍᨙ ᨕᨈᨕᨘᨊ ᨊᨄ ᨊᨅᨁᨙ ᨅᨁᨙ ᨄᨗᨑᨗᨂᨙᨑᨚ ᨉᨙᨋᨙ᨞ ᨈᨔᨗᨄᨗᨑᨗ ᨈᨔᨗᨄᨗᨑᨗ ᨊᨄᨊᨚ ᨀᨚᨑᨗ ᨔᨒᨚᨕᨙ᨞ ᨑᨗᨒᨕᨗᨊᨕᨙ ᨑᨗᨄᨒᨗᨔᨘᨕᨗ ᨆᨙᨋᨙ ᨑᨗ ᨄᨚᨈᨊᨂᨙ᨞ ᨈᨓᨊ ᨒᨕᨘ ᨒᨒᨙ᨞ ᨑᨗᨓᨛᨈᨘ ᨊᨀᨊ ᨑᨗ ᨕᨘᨓᨕᨙ ᨈᨚ ᨆᨕᨙᨁᨕᨙ ᨉᨙ ᨊᨄᨛᨈᨘ ᨕᨘᨊᨗ ᨁᨛᨋᨂᨙ᨞ ᨁᨚ ᨕᨙ᨞ ᨕᨊ ᨅᨌᨗ ᨕᨙ᨞ ᨑᨗᨒᨕᨗᨊᨕᨙ ᨈᨚᨄ ᨕᨘᨊᨗ ᨕᨘᨊᨗᨕᨙ ᨕᨗᨕᨆᨊᨛ᨞ ᨄᨄ ᨅᨍᨕᨗ ᨑᨗᨈᨗᨓᨗ ᨕᨑᨍ ᨕᨙ ᨆᨈᨘᨒᨗᨒᨗ ᨑᨗ ᨀᨇᨚᨂᨙ ᨆᨂᨘᨍᨘ ᨒᨕᨚ ᨑᨗ ᨁᨒᨘ ᨕᨙ᨞ ᨑᨗᨓᨛᨈᨘ ᨆᨈᨘᨒᨗᨒᨗ ᨊᨑᨚ ᨉᨙᨋᨙ ᨔᨗᨊᨗᨊ ᨈᨕᨘ ᨕᨙ ᨈᨛᨈᨚ ᨕᨙ ᨑᨗ ᨓᨗᨑᨗ ᨒᨒᨛ ᨕᨙ ᨄᨉ ᨆᨈᨗᨓᨗ ᨆᨊᨛ ᨕᨘᨓᨕᨙ ᨈᨔᨗᨄᨈᨙ᨞ ᨊᨑᨙᨀᨚ ᨒᨒᨚᨊᨗ ᨈᨕᨘ ᨆᨕᨙᨁ ᨄᨉ ᨑᨗᨔᨗᨑᨂᨗ ᨕᨘᨓᨕᨙ᨞ ᨊᨑᨙᨀᨚ ᨄᨘᨑ ᨆᨊᨛᨊᨗ ᨊᨈᨘᨒᨗᨒᨗ ᨀᨇᨚ ᨕᨙ ᨆᨊᨘᨍᨘ ᨆᨊᨛᨔᨗ ᨒᨕᨚ ᨑᨗ ᨄᨔ ᨕᨙ᨞ ᨀᨚᨔᨗᨑᨚ ᨑᨗ ᨄᨔ ᨕᨙ ᨆᨍᨚᨁᨙᨔᨗ ᨅᨗᨔᨘ ᨕᨙ᨞ ᨄᨘᨑᨕᨗ ᨆᨍᨚᨁᨙ ᨊᨄᨊᨗ ᨄᨉ ᨒᨗᨔᨘ ᨆᨊᨛ ᨒᨕᨚ ᨑᨗ ᨅᨚᨒᨊ ᨕᨑᨍ ᨕᨙ ᨕᨗᨕᨊᨑᨗᨈᨘ ᨅᨚᨒ ᨊᨍᨁ ᨕᨙ ᨄᨘᨕ ᨆᨈᨚᨕ ᨔᨗᨅᨓ ᨄᨈᨄᨘᨒᨚ ᨅᨗᨔᨘ᨞ ᨆᨄᨀᨚᨊᨗᨑᨚ ᨌᨑᨗᨈᨊ 'ᨕᨑᨍ ᨕᨙ' ᨑᨗ ᨔᨛᨁᨙᨑᨗ᨞ Terjemahan Bahasa Indonesia ARAJA E RI SEGERI tulisan /ARAJANG E RI SEGERI pengucapanBENDA KERAMAT DI SEGERI Dahulu kala, pada suatu ketika padi para petani tidak berbuah. Hal ini menyebabkan semua penduduk di Segeri merasa kekurangan makanan. Pada waktu itu, Segeri diperintah oleh seorang raja yang bernama 'La Tenrisessu Petta Tolau' dan diberi gelar 'Pajung Lalo e', raja yang pertama di Segeri. Pada suatu malam, seorang bermimpi di dalam istana, yaitu 'Puang Matoa'. Pada malam itu, Puang Matoa melihat ada seorang laki-laki memakai sorban. Laki-laki itu mengatakan, "disebelah utara negeri ini ada sebuah gunung yang diatas gunung itu ada sebuah 'bajak". Ketika raja mendengar mimpi Puang Matoa, Ia lalu mengumpulkan orang pintar di Segeri. Diambillah keputusan bahwa hari Jumat yang akan datang, bajak yang ada di atas gunung itu harus diambil dan dibawa ke sini. Tibalah hari Jumat yang telah ditetapkan, berangkatlah semua orang yang telah ditentukan itu. Setelah dekat pada gunung yang dimaksud, dipersilakanlah Puang Matoa berjalan agak ke depan, untuk menunjukkan di mana letak bajak yang dilihatnya dalam mimpi. Ketika sampai di puncak gunung, kelihatanlah bajak yang dimaksudkan itu, tersimpan di atas sebuah kayu yang tersusun seperti rumah-rumah. Bermufakatlah mereka untuk memindahkan bajak itu ke tempat yang agak terang, kemudian berganti-ganti mereka melihat dan memeriksa bajak itu. Semua orang merasa heran melihat bajak itu karena tidak kelihatan sambungan-sarnbungan kayu pada bajak itu. Rupanya bajak itu dari kayu yang sangat besar, kemudian dibuat dan dibentuk menjadi bajak. Ketika bajak di bawa ke Segeri, luar biasa banyaknya orang menjemput bajak yang ajaib itu. Mereka berjejer berdiri di pinggir jalan yang dilalui bajak itu. Waktu tiba di Segeri, bajak itu diarak keliling. Yang berjalan paling depan ialah Puang Matoa dan diikuti empat puluh biksu. Ketika mereka berjalan keliling kampung, tiba-tiba hujan turun dengan sangat derasnya. Berkatalah Puang Matoa, "lnilah alamat bahwa akan jadi padi di Segeri." Setelah selesai mengelilingi kampung, mereka membawa bajak itu ke suatu rumah yang tinggi dan besar. Rumah itu mempunyai em pat puluh tiang dan tiap tiang bundar seperti pohon yang masih tumbuh. Di dalam rumah itu dibuat dinding lawa tenaga artinya dinding yang memisahkan tiap petak. Rumah itu mempunyai tiga dinding pemisah karena rumah itu terdiri dari empat petak dan mempunyai loteng. Di loteng itulah tempat perlengkapan Puang Matoa beserta keempat puluh biksu lainnya. Tempat bajak itu ialah bagian rumah yang paling di belakang. Di situ pula Puang Matoa tidur. Bajak tadi diberina nama Arajang e, tempat tidumya diberi kelambu dan dibuat seperti tempat tidur manusia. Petak yang kedua dari belakang ditempati biksu yang agak pintar menari, Petak yang ketiga ditempati biksu yang baru belajar menari. Petak yang paling depan disediakan untuk tamu. Dilanjutkan cerita. Yang disebut Arajang e adalah bajak, yaitu salah satu jenis alat pertanian yang lengkap, dipakai pada upacara palili . Upacara pa/ili itu diadakan pada waktu permulaan musirn barat yang dipirn pin oleh Puang Matoa, pemirnpin dari biksu atau biasa juga disebut "sanro dukun. Dukun pada waktu itu bernama Sanro Soko atau Dukun Soko. Dukun ini yang menentukan hari dimulainya upacara palili . Biasanya upacara itu dirnulai pada hari kesembilan terbitnya bulan atau sembilan hari sebeium bulan itu berakhir. Apabila Arajang e akan diturunkan, semua biksu berpuasa tiga hari tiga malam. Mereka tidak boleh tidur selama berpuasa, tetapi harus menari sambil menyanyi. Mulailah diturunkan ~ Arajang e. yang dilakukan oleh dukun yang disebut juga Puang Matoa. Pada waktu Puang Matoa memegang Arajang e mulailah ia menyanyi, lalu diikuti oleh empat puluh biksu. Nyanyian permulaan yaitu untuk membangunkan "Oooo . . . mpa" dan dijawab oleh biksu lain "Batari". Baiklah kita simak nyanyian biksu ini, yang mereka namakan bahasa dari langit, artinya sebagai berikut. Bangunlah mereka yang tidur. Kubuai mereka yang rebah. Rebah di tanah Luwu Tidur di negeri kelahiran Nyanyian Puang Matoa itu disambut dengan nyanyian kur oleh 40 biksu. Bangunlah menampakkan wajah Tampak dengan muka berseri Menari-nari bersama kami Bersama turun bersama naik Menjatuhkan langkah bersama Melangkah di daerah kelahiran Negeri tanah tumpah darahmu Rebah di kala mentari menyinar Tidur di kala bulan memancar Bangunlah mereka-yang tidur Kubuai mereka yang rebah Bangunlah mereka yang tidur Kubuai mereka yang rebah Rebah di Pertiwi Tidur di atas buaian Bangunkan mereka yang tidur Kubuai mereka yang rebah Rebah di Pertiwi Tidur di belanga yang kosong Bangunkan mereka yang tidur Kubuai mereka yang rebah Rebah di bawah arus Tidur di Pertiwi Bangunkan mereka yang tidur Kubuai mereka yang rebah Rebah di puncak cakrawala Tidur di antara kilat menyambar Bangunkan mereka yang tidur Kubuai mereka yang rebah Rebah di tepi langit Tidur di balik pelangi Bangunkan mereka yang tidur Kubuai mereka yang rebah Rebah di luar langit Tidur di antara kilat menyambar Bangunkan mereka yang tidur Kubuai mereka yang rebah Rebah di pangkuan kekasih Tidur di dalam dunia Setelah dinyanyikan nyanyian di atas, maka Puang Matoa sendiri yang menyanyi sebagai penutup nyanyian untuk membangunkan Arajang e di Segeri. Telah bangun kerajaan Juga menurun dari langit Mata ke kiri ke kanan di Tolo nama negeri di Biar rebah di tangga naik Tentera di kata biksu Mendekap dalam pelukan Bak air mengalir di langit Naik berbuai di buaian pelangi Selamat pada kelahiran semula Berita di kala aku lahir Bertukar kata pada Dewata Kata dihibur dengan tari Mengalir di air tenang Kutimba dan kubaca doa Takkan tidak kupercaya Bahwa dia orang di langit Kukenal orang di Lasuardi Kami pengasuh biksu Nasib dari orang di langit Biasa dalam kerusuhan Kami bilang hanya Dewata Parau kita punya suara Dicekik rasa leher kita Berdebar rasa jan tung kita Memukul papan Sampai malam hari Menyanyi menari-nari Di sisi kelamku luas Untuk keselamatan Bagi semua manusia Oh Dewa . . . Terimalah Demikianlah selanjutnya nyanyian membangunkan Arajang e . Setelah Arajang e bangun, dihadirkanlah Matoa Segeri Kepala Kampung Segeri. Kemudian, Puang Matoa kepala biksu mencabut kem maddampu alameng yang disusul oleh Matoa Segeri dengan mirnik yang menyeramkan dan beremosi sehingga bisa melahirkan ekspresi, yang bampir menyerupai Atu, yaitu deklamasi sanjak daerah. Puang Matoa menyanyi serta diikuti gerakan dengan nyanyian sebagai berikut. Oh ... Dewa Keindahan, bahasaku dalam janji Menjulang-julang ke langit janjimu Didampingi hiasan pelangi Yang damai mertua dengan mertua Sealir dalam aliran sungai damai Oh ... Dewa Nyanyian di atas diulangi sampai tiga kali. Setelah nyanyian selesai, Puang Matoa beranggapan bahwa Arajang e telah bangun dan dibuatkanlah sandaran. Berkwnpullah rakyat tani, pedagang, pemerintahan, budak, dan seluruh rakyat Segeri sambil memikul air untuk air mandi Arajang e. Kemudian, dimandikanlah Arajang e oleh Puang Matoa. Orang-orang yang berkumpul tadi, pada mandi di bawah tempat dimana Arajang e dimandikan. Sesudah dimandikan, Arajang e dibuogkus dengan daun pisang yang diarnbil dari desa Takku, Cempu e, dan Segeri sendiri. Sesudah Arajang e dibungkus, orang banyak tadi bersama Puang Matoa pergi mengambil tumbuhan yang dinamai " istilah Bugis Mattikke Yang dikatakan ialah batang pisang lengkap dengan daunnya. Yang menyediakannya ialah Matoa Tiniporongeng Kepala Kampung Tirnporongeng sebuah kampung di Segeri. Batang pisang itu dilengkapi dengan sebiji nangka dan dua biji kelapa yang digantung pada puncak batang pisang itu. Selanjutnya, dilengkapi dengan dahan kayu, berupa 1. siri, 2. telle serupa bambu kecil, 3. araso semacam tebu, 4. batang moli-moli. Kesemuanya ini adalah kayu-kayuan, yang diberi semua pada pohon pisang tadi, maka dinamailah batang pisang itu Lau Lalle. Hal ini diibaratkan bersamaan datangnya dengan Arajang e saudara Arajang e yang tertua dan disimbolkan sebagai seorang yang sudah tua yang sedang menanti saat kematian. Lau Lalle ini diletakkan berdampinqan dengan Arajang e. Setelah itu menyanyilah Puang Matoa bersama empat biksu. Maksud nyanyian itu adalah untuk mengantar kematian Lau Lalle agar jangan terlalu tersiksa. Setelah selesai menyanyi, maka berdirilah Matoa Segeri mencabut pedang dan menebang Lau Lalle dengan niat membunuh semua hama padi, yang biasanya mengganggu padi. Singkat cerita. Ketika orang ban yak pergi mengambil air, diiringi dengan gendang, gong, anak beccinq, lae-lae, besi bongrongor, dan semua peralatan kuno. Masih ada lagi tambahan yang lain, seperti dua piring sirih, dua piring telur, dua piring pisang, dua piring jagung yang sudah digoreng, dan beras empat macam, yaitu beras kuning, beras hitam, beras merah , dan beras putih. Ketika tiba di sungai, Puang Matoa yang mula-mula turun ke sungai dengan menurunkan kaki sebelah kanan, sambil membagi-bagi piring tadi, untuk diturunkan ke sungai, yang lainnya dinaikkan kembali ke pinggir sungai bagian Lau Lalle . Ketika orang banyak itu turun ke air, tidak berhenti-hentinya berbunyi gong, gendang, dan lain-lain alat bunyi-bunyian. Keesokan harinya, dibawalah Arajang e menuju sawah. Ketika berkeliling kampung untuk menuju ke sawah, semua orang yang berdiri di pinggir jalan masing-masing membawa air satu ember. Pada waktu Arajang e bersama pengantarnya lewat, mereka disirami air oleh orang-orang yang berdiri itu. Setelah berkeliling kampung, mereka menuju ke pasar. Di situ berlangsung lagi acara tari-tarian yang dibawakan oleh biksu-biksu pengiring Arajang e tadi. Selesai acara di pasar, mereka pulang ke tempat kediaman Arajang e. Rumah itu dijaga oleh Puang Matoa beserta empat puluh biksu. Adapun maksud dan tujuan diupacarakannya Arajang e adalah agar padi menjadi berhasil baik. Demikianlah cerita Puang Matoa tentang benda keramat di Segeri. Referensi Mattaliti, M. Arief. 1989. Sastra Lisan Prosa Bugis. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Jakarta. Note Araja e ri Segeri merupakan salah satu sastra lisan Prosa Bugis yang saya ambil dari buku 'Sastra Lisan Prosa Bugis' tulisan M. Arief Mattalitti yang diterbitkan Depdikbud tahun 1989 dengan beberapa penyesuaian logat yang daerah saya miliki. Dalam bukunya, cerita sastra ini ditulis dalam huruf latin, yang kemudian saya tuliskan dalam aksara lontara. Hal ini saya lakukan sebagai bentuk kepedulian saya pada pelestarian sastra dan aksara lokal. Sebagai penduduk biasa Indonesia dari suku Bugis, saya ingin agar budaya bugis dan aksara dan bahasa tradisional Indonesia secara keseluruhan, tidak sepenuhnya tergerus oleh arus globalisasi yang kian hari dampaknya semakin terasa pada kehidupan sehari-sehari. Saya bukan seorang yang profesional dalam menuliskan aksara lontara. Pengetahuan saya cuma terbatas pada apa yang saya ingat dari pelajaran SD dan SMP yang terakhir kali saya pelajari sekitar 13 tahun yang lalu waktu SMA tidak ada pelajaran bahasa daerah meskipun dalam keseharian saya, bahasa bugis selalu menjadi bahasa utama yang kami gunakan di pedesaan. Jadi, mungkin dalam penulisan sastra dalam aksara lontara ini ada beberapa kesalahan yang sekiranya dapat dimaklumi, terutama terkait penggunaan partikel. Dalam menuliskan partikel pada tulisan ini, saya berusaha untuk selalu memisahkan kata utama dengan partikel sebab dalam aksara lontara tidak dikenal huruf konsonan tunggal dan dalam pelajaran SD dan SMP fokus utamanya adalah terbatas pada pengenalan dan baca tulis lewat sastra, jadi tentang tata bahasa bugis, ilmu saya kurang terutama pada penggunaan partikel. Saya menyadari ada beberapa ketidakkonsistenan dalam penulisan aksara lontara saya, maka dari itu saya berusaha memperbaiki meskipun mungkin ada saja yang terlewatkan. Karena itu, jika Anda seorang yang mampu menulis aksara lontara dengan baik, kritik dan sarannya sangat diharapkan guna memperbaiki tulisan ini.
cerita rakyat bugis tulisan lontara